Kutipan dari : Ilya Ulumudin 20 April 2012
Menjadi Diri Sendiri
Alkisah, di puncak sebuah mercusuar, tampak lampu mercusuar
yang gagah dengan sinarnya menerangi kegelapan malam. Lampu itu menjadi tumpuan
perahu para nelayan mencari arah dan petunjuk menuju pulang.
Dari kejauhan, pada sebuah jendela kecil di rumah penjaga
mercusuar, sebuah lampu minyak setiap malam melihat dengan perasaan iri ke arah
mercusuar. Dia mengeluhkan kondisinya, “Aku hanyalah sebuah lampu minyak yang
berada di dalam rumah yang kecil, gelap dan pengap. Sungguh menyedihkan,
memalukan, dan tidak terhormat. Sedangkan lampu mercusuar di atas sana, tampak
begitu hebat, terang dan perkasa. Ah….Seandainya aku berada di dekat mercusuar
itu, pasti hidupku akan lebih berarti, karena akan banyak orang yang melihat
kepadaku dan aku pun bisa membantu kapal para nelayan menemukan arah untuk
membawanya pulang ke rumah mereka dan keluarganya.”
Suatu ketika, di suatu malam yang pekat, petugas mercusuar
membawa lampu minyak untuk menerangi jalan menuju mercusuar. Setibanya di sana,
penjaga itu meletakkan lampu minyak di dekat mercusuar dan meninggalkannya di
samping lampu mercusuar. Si lampu minyak senang sekali. Impiannya menjadi
kenyataan. Akhirnya ia bisa bersanding dengan mercusuar yang gagah. Tetapi,
kegembiraannya hanya sesaat. Karena perbandingan cahaya yang tidak seimbang,
maka tidak seorang pun yang melihat atau memperhatikan lampu minyak. Bahkan,
dari kejauhan si lampu minyak hampir tidak tampak sama sekali karena begitu
lemah dan kecil.
Saat itu, lampu itu menyadari satu hal. Ia tahu bahwa untuk
menjadikan dirinya berarti, dia harus berada di tempat yang tepat, yakni di
dalam sebuah kamar. Entah seberapa kotor, kecil dan pengapnya kamar itu, tetapi
di sanalah lebih bermanfaab. Sebab, meski nyalanya tak sebesar mercusuar, lampu
kecil itu juga bisa memancarkan sinarnya menerangi kegelapan untuk orang lain.
Lampu kini tahu, sifat iri hati karena selalu membandingkan diri dengan yang
lain, justru membuat dirinya tidak bahagia dan memiliki arti.
Pembaca yang budiman,
Hidup kita tentu akan menderita jika merasa diri sendiri
selalu lebih rendah dan kecil. Maka, tidak akan tenang hidup jika kita selalu
membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain dan menganggap orang lain
lebih hebat. Apalagi, jika kita kemudian secara membuta mencoba menjadi orang
lain. Meniru orang memang sah dan boleh saja. Namun, belajarlah dari orang lain
dari sisi yang baik saja, tentu dengan tanpa mengecilkan dan meremehkan diri
sendiri.
Karena itu, apapun keadaan diri, kita harus senantiasa
belajar bersyukur dan tetap bangga menjadi diri sendiri. Selain itu, kita juga
butuh melatih danmemelihara keyakinan serta kepercayaaan diri. Dengan menyadari
kekuatan dan kelebihan yang kita miliki, dan mau berjuang selangkah demi
selangkah menuju sasaran hidup yang telah kita tentukan, ditambah bekal
kekayaan mental yang kita miliki, pastilah kemajuan dan kesuksesan yang lebih
baik akan kita peroleh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar